Tangerang, Juli 2022

Tempe adalah hasil makanan asli Indonesia. Yuk simak  sejarah tempe di Indonesia!

Kata “tempe” berasal dari bahasa Jawa kuno yaitu “tumpi” yang berarti makanan yang berwarna putih. Tempe pada awalnya dibuat dari kedelai hitam. Tempe dikembangkan di Jawa sebelum abad ke-16 dan dikenal di masyarakat ada Tempe Jogja, Tempe Banyumas, Tempe Malang dan Tempe Pekalongan. Membuat tempe juga salah satu cara mencintai Indonesia. 

Bukan itu saja, tempe juga kaya akan vitamin B12, serta retinol yang jumlahnya jauh lebih tinggi daripada daging sapi. Tempe juga mengandung karbohidrat, serat, riboflavin, niasin, asam pantotenat, piridoksin, dan biotin yang tidak ada dalam daging sapi. Tempe bisa dikreasikan menjadi banyak hidangan. Salah satunya ada hidangan bernama “Sambal Tumpang”. Sambal Tumpang merupakan hidangan tertua yang menggunakan tempe sebagai bahan utamanya. Sambal tumpang adalah masakan berkuah kental yang dibuat menggunakan bahan unik, yakni tempe yang sudah hampir busuk atau biasa disebut tempe bosok. Sambal tumpang hingga kini bisa cukup mudah ditemukan di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya di Solo dan Kediri. Hal ini dibuktikan dengan tercantumnya sambal tumpang di dalam Serat Centhini. Berarti, bisa dipastikan kalau sambal ini sudah ada setidaknya sejak 200 tahun yang lalu! Hidangan lainnya yang kita bisa kreasikan adalah burger tempe, sate tempe, sandwich tempe, dan masih banyak lagi.  

Beberapa waktu yang lalu, beberapa siswa SMP Strada Santa Maria 1 berkesempatan untuk membuat tempe, mulai dari tahap awal sampai tempe jadi. Pengalaman ini sebagai salah satu tindak lanjut dari acara webinar pelatihan pembuatan tempe sehat yang diselenggarakan Perkumpulan Strada bekerja sama dengan komunitas “Demi Bumi” dalam rangka menyambut hari pangan. Pada kesempatan ini, para siswa akan berbagi ilmu tentang cara pembuatan tempe.

Cara pembuatan tempe sebagai berikut :

1. Pemilihan dan pencucian kedelai

Biji kedelai yang dipilih untuk dijadikan sebagai bahan dasar tempe harus bagus, bernas, dan padat berisi. Pemilihan tersebut digunakan agar dapat menghasilkan tempe yang baik dan berkualitas nantinya.

2. Perendaman awal

Kedelai direndam dalam air selama 12 jam, yang mana dalam proses ini akan memudahkan pengupasan kulit biji kedelai. Pada saat kedelai direndam berlangsung proses fermentasi oleh bakteri yang ada di air.

3. Pengupasan kulit

Pengupasan kulit dapat dilakukan dengan cara biji kedelai yang diinjak-injak, jika produksi tersebut dalam jumlah yang besar. Sementara itu, jika produksi rumahan maka caranya bisa lebih higienis, yaitu dengan alat pengupas biji. 

4. Perendaman lanjutan

Perendaman lanjutan dilakukan agar kedelai mencapai tingkat keasaman yang baik, yaitu sekitar 3,5 hingga 5,2 pH.

5. Pencucian kedelai yang telah direndam

Pencucian berfungsi untuk menghilangkan bakteri dan mikroorganisme yang tumbuh selama perendaman, serta membuang kelebihan asam dan lendir yang terproduksi.

6. Perebusan lanjutan

Proses perebusan lanjutan berfungsi sebagai proses sterilisasi untuk mematikan mikroorganisme yang tumbuh selama perendaman. Lama perebusan tergantung pada kondisi bahan. Umumnya proses ini memakan waktu 40-60 menit.

7. Penirisan dan pendinginan

Biji yang telah direbus ditiriskan dengan ditebarkan di atas nampan yang lebar dan besar agar lebih mudah tiris dan dingin.

8. Penambahan ragi

Penambahan ragi pada kedelai dilakukan pada suhu sekitar 37°C. Setiap 1 kg biji kedelai, takaran ragi yang digunakan adalah satu sendok makan. Kemudian diaduk dan dicampur rata yang dilakukan di atas nampan.

9. Pembungkusan bahan

Bahan untuk membungkus bisa menggunakan bahan alami seperti daun jati dan daun pisang, atau bahan buatan seperti plastik yang dinilai lebih praktis dan efisien.

10. Fermentasi, pemecahan senyawa kompleks

Setelah dibungkus, calon tempe difermentasikan pada suhu kamar 38-40°C. Suhu dijaga agar tidak lebih dan tidak kurang dari suhu yang telah ditentukan, mengingat suhu memiliki peranan penting apakah proses fermentasi itu berhasil atau tidak.

Sumber :

https://kumparan.com/kabar-harian/proses-pembuatan-tempe-kedelai-dengan-cara-tradisional-1wIrX3t5gs3/full

Dari pengalaman ini, selama mengikuti webinar tentang pelatihan pembuatan tempe sehat yang dibawakan oleh Jessica Halim sangatlah menyenangkan karena para siswa merasa bisa menambah ilmu mengenai olahan tempe, khususnya belajar juga cara membuat tempe dengan mudah dan sederhana. Selama pembuatan tempe, para siswa tidak menemukan kesulitan dalam pembuatannya, hanya saja para siswa harus berhati-hati dalam proses pembuatannya. Setelah menunggu sekitar 1,5 hari- 2 hari, para siswa akhirnya bisa menikmati hasil karya tempe mereka sendiri. Hasilnya sangat memuaskan dan sesuai ekspektasi. Dengan pengalaman ini juga, para siswa diharapkan lebih dapat mencintai bumi dan hasil tanahnya, serta dapat lebih mencintai olahan makanan khas dari Indonesia, tanah airnya.

Salam AMDG!!