Di tengah dunia yang serba cepat, sekelompok siswa SMP ini justru memilih memperlambat waktu, menuliskan bait demi bait tentang buku, luka, dan harapan yang mereka rasakan sehari-hari.

Coba tanyakan pada guru mana pun: menyuruh murid membaca satu bab buku sering kali terasa seperti meminta mereka mendaki gunung. Namun scroll demi scroll di layar ponsel, jempol mereka justru gesit tanpa lelah. Dari situ lahir anggapan yang mengakar, bahwa remaja hari ini sudah kehilangan minat pada kata-kata panjang, apalagi sastra.

Sepuluh puisi berikut, ditulis oleh siswa SMP Strada Santa Maria 1 Tangerang, mematahkan anggapan itu satu per satu. Ada yang menulis tentang buku sebagai pabrik ilmu dan lentera di tengah gelap. Ada pula yang menuliskan malam-malam sunyi ketika pena berdansa di atas kertas, menuntaskan luka yang terlalu berat untuk disimpan sendiri. Semuanya lahir dari tangan remaja yang sama sekali tidak asing dengan linimasa dan notifikasi, namun tetap memilih untuk menulis.

 

Bacalah pelan-pelan. Di setiap bait, mungkin kamu akan menemukan sepotong dirimu sendiri.

10 karya, 9 penulis, satu semangat yang sama.

  1. Dihentikan-Aiko Hana Christian Gunawan/8A
  2. Ancang-ancang ‘ku Menjumpai Masa Depan- Aiko Hana Christian Gunawan/8A
  3. Pabrik Penghasil Ilmu- Mikaela Audrey Hatasura/9A
  4. Dari Buku, Aku Bertumbuh- Anselma Siselian Abimanyu /8D
  5. Dunia Ku Sendiri- Catherine Angela/9A
  6. Makna di Balik Membaca- Claudia Joice/8A
  7. Literasi Merangkai Cinta Sastra- Selviana Asri Callie Tobing/9B
  8. Tulisan yang Terukir- Charlesa Felesia/9A
  9. Rumah Kertas- Giselle Audrey H./9C
  10. Membaca, Mengenal Dunia- Callista Queen A./9B

 

Ruang Sunyi: Ketika Menulis Jadi Tempat Pulang

Dua puisi pembuka karya Aiko/8A mengangkat cerita yang berbeda: tentang melepaskan dan menyusun harapan. Keduanya menunjukkan bahwa kertas dapat menjadi tempat paling jujur untuk menuangkan rasa dan pikiran.

 

Dihentikan

Karya: Aiko Hana Christian Gunawan/8A

Kasihku, kumohon menjauhlah dari benakku ini.
Memang aku sudah mampu membiarkanmu pergi,
Tatapan itulah yang membuatku hancur perlahan
Namamu yang selalu berkelana di kepala setiap malam

Kuakui memang aku masih menginginkanmu
Tetapi kumohon, saat kamu mencariku nanti
Jangan pernah coba memanggilku lagi
Seakan lebih baik terbakar,
dibandingku masih menyimpan riwayatmu dibenakku

Doa-doa untukmu pun mulai berubah
Seakan terkubur rapi secara perlahan
Bukan lagi mendambakanmu datang,
Tetapi agar kamu padam dari ingatanku

 

Ancang-ancang ‘ku Menjumpai Masa Depan

Karya: Aiko Hana Christian Gunawan/8A

Diambang hari yang mau berganti
Orang-orang sudah terlelap
Penaku masih berdansa di kertas buku
Kuambil helaan nafas panjang tiap satu halaman

Kutatap semua yang kuingat sebelum terpulas
Anganku seakan penuh suara yang tak berarah
Berusaha terbawa tertanam dikepala
Agar hasil teratas itu tidak pernah pudar

Dadaku terus berseru mendambakan hari itu
Menuangkan raihan manis ada di esok hari
Memecah haus penasaran ilmu
Hingga kata: “selamat” menghadap ku nanti

 

Delapan Jendela Dunia

Delapan puisi berikutnya ditulis oleh delapan siswa yang berbeda, namun seolah bersepakat pada satu hal: buku belum mati, ia hanya menunggu untuk dibuka lagi. Ada yang menyebutnya pabrik ilmu, ada yang menyebutnya lentera, ada pula yang menyebutnya jendela dunia. Nama boleh berbeda, tapi ajakannya sama: letakkan sebentar layarmu, dan berikan kertas kesempatan untuk bicara.

Pabrik Penghasil Ilmu

Karya: Mikaela Audrey Hatasura / 9A

Buku adalah pabrik ilmu
Di mana kau dapat menemukan banyak jawaban atas bimbangmu
Begitu banyak maslahat di setiap lembarnya
Yang kerap menjadi cahaya di gelapnya hidup

Namun sayang beribu sayang
Cahaya itu berangsur redup
Mata-mata mulai tertutup
Mereka sebetulnya bisa melihat tetapi tidak bisa membaca

Apalah yang sulit?
Hanya membaca untaian kata tidak begitu menyita waktumu
Apalah yang sulit?
Sampai kau hanya membaca tetapi tidak ada yang kau resapi

Ayolah muda-mudi bangsa
Janganlah kau mau dijajah kebodohan
Tidakkah kau tahu?
Hanya ada satu senjata untuk melawan, yaitu ilmu
Dan di mana kau bisa mendapat senjata tersebut?
Buku adalah tempatnya

 

Dari Buku, Aku Bertumbuh

Karya: Anselma Siselian Abimanyu / 8D

Ketika aku sedang belajar,
Aku selalu membuka halaman demi halaman buku.
Dibuku itulah terdapat jawaban dari pertanyaan pertanyaanku.
Tempat ilmu hadir bersama rasa ingin tahu.

Setiap kali kita membaca, selalu ada pengetahuan baru yang kita dapat.
Mengenalkan ilmu untuk masa depan bangsa.
Membaca dapat membantu kita untuk meraih cita cita.
Mewujudkan mimpi menjadi nyata.

Bersama sastra kita tumbuh, dengan cinta akan nilai-nilainya.
Sastra memberitahu kita akan indahnya bahasa Indonesia.
Merangkai setiap kata kata menjadi hidup.
Melalui sastra kita mengenal tentang budaya bangsa.

Selama kita masih menjadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan setiap hari,
Akan selalu ada cahaya,
Yang menuntun anak anak bangsa,
Menjadi anak anak yang cerdas dan hebat.

 

Dunia Ku Sendiri

Karya: Catherine Angela / 9A

Aku ingin terus berlari
Berlari mengejar harapan baru
Harapan yang kususun dengan rapi
Untuk memulai babak baru nan berseri

Aku ingin terus belajar menulis
Aku ingin terus mengasah pena
Demi diriku dan masa depan yang cerah
Aku akan selalu melaju tanpa lelah
Mengejar semua yang baik bagi jiwa

Menorehkan berjuta rangkaian kata
Tertulis banyak hal di dalamnya
Bagi siapa yang ingin mengejarnya
Agar pengetahuan tidak menjadi kertas belaka

 

Makna di Balik Membaca

Karya: Claudia Joice / 8A

Membaca…
Satu kata namun sulit dilaksanakan
Kemalasan mengendalikan
Memegang buku pun sulit dilakukan

Tapi pernah kah kau mencoba
Membuka jendela dunia
Membaca halaman penuh aksara
Dan kau dalami setiap makna

Tak hanya mengeja kata
Tetapi menjelajahi dunia yang berbeda
Menyelami dunia penuh kisah
Yang menyimpan cita-cita

Buku layaknya lentera
Menerangi gelapnya pikiran
Buku jendela dunia
Membuka langit penuh wawasan

 

Literasi Merangkai Cinta Sastra

Karya: Selviana Asri Callie Tobing / 9B

Di balik layar yang mencuri hari-hari
Di manakah kini cinta pada literasi?
Mulai dari lembaran-lembaran masa kecil kita
Hingga kita mulai berpaling padanya

Setiap hati terpikat oleh sastra
Yang terukir dalam karya-karya mereka
Seperti puisi yang mengalun setiap waktu
Atau sebuah novel yang menyentuh kalbu

Literasi bagaikan lukisan yang indah
Elok meski kadang sulit dimengerti
Kata-kata yang menyayat hati
Menyimpan makna di setiap nurani

Mari membuka kembali lembaran buku
Yang sempat terabaikan di sela waktu
Jadikanlah sastra teman baikmu
Yang akan selalu menemanimu

 

Tulisan yang Terukir

Karya: Charlesa Felesia / 9A

Setiap lembar kertas yang terisi
Muncullah hati yang mencari
Jejak – jejak tinta itu menjadi bukti yang terus menginspirasi
Menuntun mereka yang sedang mencari

Kata demi kata telah menjadi sebuah kalimat
Seperti ilmu yang baru diketahui
Dengan satu lembar saja
Rasa penasaran itu akan terus membara

Tulisan – tulisan ini yang terukir
Telah membuka pelita jiwa
Mengisi mereka dengan cinta kepada sastra
Yang tak akan pernah pudar begitu saja

Sastra mengajarkan betapa indahnya rasa
Hingga menumbuhkan cinta yang sama kepada bahasa
Selama buku itu kita terus membaca
Ilmu dan budaya kita akan terus terjaga

 

Rumah Kertas

Karya: Giselle Audrey H. / 9C

Saat dunia riuh dan palsu
Aku berbisik pada selembar kertas
Dengan pena yang menuntun jemariku
Perlahan berdansa, menciptakan baris-baris baru

Bersinggahlah sebentar di rumah ini
Kau akan melihat dunia dari sudut pandang yang baru
Resapi, cintai, pahami
Biarkan waktu membeku

Di sini, tak ada penghakiman
Kau bebas menumpahkan isi nurani
Sebab di balik keindahan kata, ada sebuah rasa
Yang terlalu berat untuk disimpan sendiri

Jika sudah saatnya kau kembali melangkah
Jangan biarkan dunia membungkam suaramu
Serukan kepada mereka semua
Betapa indahnya semesta kata

 

 

Membaca, Mengenal Dunia

Karya: Callista Queen A. / 9B

Kau ingin mengenal dunia ini?
Baca ayolah baca
Janganlah acuh, jangan abaikan
Mendekatlah, bukalah tiap lembarnya
Kau akan tahu, kau akan mengenal
Melihat cakrawala yang luas
Jendela dunia

Wahai jiwa bangkitlah
Jangan malas, lawan! Lawan!
Membaca takkan membuatmu abu-abu
Kau takkan lagi kaku
Kau takkan lagi beku
Bersinarlah, raihlah ilmu

Tulisan ini…
Nilai nilai sastra yang tergores
Tiap kata mengandung arti
Tiap kalimat penuh makna

Membaca membuka jalan
Ayo Bangkitlah!
Gapailah harapanmu
Bentangkan masa depanmu
Dan kau kan mendapatkan bintang mu

 

Sepuluh puisi ini bukan bukti bahwa remaja Indonesia sudah kembali gemar membaca dalam semalam. Tetapi mereka membuktikan sesuatu yang lebih penting: minat itu belum pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu ruang untuk tumbuh, entah lewat mata pelajaran yang mengasyikkan, program literasi sekolah, atau sekadar satu puisi yang kebetulan menyentuh hari yang sedang berat.

Literasi tidak dimulai dari perpustakaan,, ia dimulai dari satu keputusan sederhana untuk membuka halaman pertama.

Punya puisi, cerpen, atau tulisan lain yang ingin dibagikan?

Kirimkan karyamu kepada pihak sekolah, ya!
Siapa tahu, tulisanmu berikutnya dapat menjadi lentera bagi pembaca lainnya.

Ms. Crisna

 

Hak cipta setiap puisi tetap berada pada penulis masing-masing.

 

Sebarkan artikel ini