Hai, teman-teman salam jumpa kembali

Pada artikel ini, sedikit sharing tentang kegiatan rekoleksi kelas 9 di semester genap ini, yang dilaksanakan pada tanggal 24-25 Maret 2022 secara daring (zoom). Kegiatan rekoleksi yang bertemakan ā€œWho Am I?ā€ ini dimulai dari pukul 07.30- 12.30 WIB. Dalam kegiatan rekoleksi ini, sekolah bekerjasama dengan tim dari Civita Youth Camp. Yuk simak keseruan kegiatan rekoleksi :

Hari 1, tanggal 24 Maret 2022

Acara dimulai pada pukul 07.00 dengan membagikan link zoom ke grup kelas. Ibu Lusia Lantika selalu pembawa acara memberi salam dan mengatur jalannya acara. Semua siswa dikumpulkan di zoom A terlebih dahulu untuk mengikuti ibadat pagi yang dipimpin oleh Frater Josua, OSC. Pihak sekolah menyambut tim Civita Youth Camp dengan memberikan sambutan yang dibawakan oleh Kepala Sekolah Ibu Stanisla Arini Budi Susanti. Setelah itu, dilanjutkan dengan perkenalan dari sekolah dan tim dari Civita Youth Camp. Setelah perkenalan, siswa diarahkan untuk masuk ke ruang zoom kelas 9A, 9B, 9C, dan 9DĀ  didampingi oleh bapak/ibu guru, suster Sr. Baptista, CB, Sr. Oscan, SFSC, Sr. Yuli dan Frater Bernard.

Siswa diarahkan untuk mengenal siapa diriku dan mengapa aku harus mengenal diriku. Mengenal lingkungan yang ada di sekitarku hingga sampai pada muaranya. Hidup lebih baik lagi dengan mengembangkan talenta yang dianugerahkan Tuhan bagi diriku. Apa yang kalian lihat pada diri kalian? Yang pertama dilihat adalah kelebihan yang dimiliki supaya dalam perjalanan hidup dapat seimbang, lalu yang kedua baru melihat kekurangan. Kekurangan bukan melemahkan diri, melainkan menguatkan diri dan semakin yakin akan kemampuan diri. Setelah siswa mengenal kelebihan dan kekurangan diri yang telah Tuhan anugerahkan, lalu siswa masuk pada sesi selanjutnya, yaitu lambang diri.

Pada sesi ini, suster menjelaskan apa itu lambang diri. Lambang diri adalah sesuatu seperti tanda yang menyatakan suatu hal, simbol, dan tanda pengenalan yang menyatakan sifat atau keadaan, pengenalan menemukan simbol diri. Setelah itu, suster meminta dan menjelaskan simbol benda dan sifat yang dimiliki oleh benda tersebut; misalnya BATU sifatnya keras, kokoh, dan tangguh. Pada sesi ini juga, siswa diberi waktu untuk mencari, menggambar, atau membentuk lambang diri. Apabila sudah selesai, mereka diperkenankan untuk memberikan raise hand dan diminta untuk memberikan alasan, mengapa memilih bentuk ini. Ada siswa yang melambangkan dirinya seperti kerupuk karena menurutnya kerupuk itu disukai oleh banyak orang dan semakin disukai sehingga tidak bisa menentukan mana orang yang baik dan mana orang yang tidak baik. Ada juga siswa yang melambangkan dirinya seperti kura-kura, karena dia merasa bahwa dirinya itu lambat dan butuh dorongan dari orang lain. Ada juga yang melambangkan dirinya seperti batu, bunga dan masih banyak lagi. Lalu para siswa merefleksikan pilihan lambang dirinya tersebut dengan diiringi musik.

Sesi yang kedua pada kegiatan rekoleksi di hari pertama ini, bersama Frater Bernard, diawali dengan mengisi kuisioner tentang siapa yang berperan dalam hidup para siswa. Kebanyakan siswa menjawab bahwa orang tua yang berperan dalam hidupnya. Kemudian, para siswa diajak untuk menonton video tentang kisah seorang ayah yang mengajarkan anaknya untuk menabung. Dari video itu, siswa diminta untuk memberikan tanggapan, dan mereka menuliskan kebaikan orang tua yang telah diberikan kepadanya. Selanjutnya frater melontarkan pertanyaan tentang bagaimana relasi para siswa dengan keluarga mereka. Siswa memberikan tanggapan berbagai macam sesuai dengan yang dia alami dan rasakan dalam keluarga, bahkan ada yang sampai menangis pada sesi ini karena merasa tersentuh dengan kondisi keluarganya. Sesi kedua ini menutup rekoleksi hari pertama dan frater memberikan tugas kepada para siswa untuk membuat video; dapat berupa tiktok, cover lagu, podcast, dan lain-lain dengan anggota keluarga. Untuk setiap kelas didampingi oleh pembicara yang berbeda-beda, tetapi dengan tema yang sama.

 

Hari 2, tanggal 25 Maret 2022

Pada hari ke-2, para siswa langsung diarahkan untuk masuk ke ruang zoom meeting kelas masing-masing. Sesi pertama di hari kedua ini diawali dengan memutarkan beberapa video me time siswa bersama keluarga yang sudah dikirimkan ke google classroom dan siswa diminta untuk memberikan tanggapan tentang momen kedekatan bersama orangtua, harapan untuk orang tua, dan apa yang ingin diberikan kepada orangtua. Momen ini memberikan rasa bahwa siswa-siswi harus memiliki masa depan yang lebih baik lagi, mulai bertobat karena mereka sering mengabaikan orang tua, dan orang tua menjadi sarana Tuhan untuk mencintai mereka, serta mereka juga sadar akan segala godaan yang dirasakan.

Melalui iman kristiani, dalam situasi dan tantangan hidup yang keras, manusia dihadapkan pada pilihan kepada Allah Sang sumber hidup. Kemudian, ditampilkan juga video 7 pokok dosa, yaitu hawa nafsu, kerakusan, keserakahan, kemalasan, kemurkaan, iri hari, kemarahan. Apabila diperhatikan dengan seksama, tujuh pokok dosa dapat memicu dosa lainnya. Oleh karena itu, hindari diri dari tujuh pokok dosa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Kemudian rekoleksi ini ditutup dengan misa bersama yang dipimpin oleh Rm. Hendrikus.

Demikian keseruan para siswa kelas 9 dalam mengikuti kegiatan rekoleksi. Walaupun dilaksanakan secara daring, tetapi intisari dari kegiatan rekoleksi ini bisa dihayati dan dirasakan oleh para siswa. Para siswa dapat menyadari siapa dirinya, kelebihan/kekurangan dari dirinya dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, mereka dapat juga menghargai peran orang tua sebagai perwakilan Tuhan di dunia ini yang begitu berharga dan mencintai diri para siswa sepenuhnya. Terima kasih untuk para pendamping dari Civita Youth Camp, semoga di tahun depan bisa terlaksana secara offline/tatap muka.

Tuhan memberkati.

 

Sebarkan artikel ini